Selasa, 12 Januari 2010

Pantun Buhun Urang Kanekes

DN. Halwany

Masyarakat Baduy yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Kontak mereka dengan dunia luar telah terjadi sejak abad 16 Masehi, yaitu dengan Kesultanan Banten. Sejak saat itu berlangsunglah tradisi seba sebagai puncak pesta panen dan menghormati kerabat non Baduy yang tinggal di luar Kanekes. Bagi Kesultanan Banten tradisi Seba tersebut diartikan sebagai tunduknya orang Baduy terhadap pemerintahan kerajaan setempat (Garna,1993). Sampai sekarang upacara Seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten. Di bidang pertanian penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan masyarakat lain yang bukan Baduy, misalnya dalam sewa menyewa tanah, dan tenaga buruh. Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Baduy menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Baduy terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Disamping itu, orang Baduy di Kanekes, sejak para karuhun memiliki syair-syair atau pantun-pantun. Adapun syair ataupun pantun tersebut menggunakan bahasa yang dipergunakan sebagai media utama dalam lisan sehari-hari Baduy tapi mengandung pituah, perintah, adalah Bahasa Sunda dialek Baduy yang telah meninggalkan Kanekes beserta segala pranata masyarakatnya. Dalam hal ini seperti adat kepercayaan, kebiasaan, yang bertumpu pada akar keklasikan serta banyaknya kata-kata dan untaian kalimat Sunda Kuno. Dikalangan masyarakat Baduy Kanekes, unsur Sunda Kuno itu lebih banyak dibanding yang terdapat dikalangan masyarakat Sunda luar Kanekes. Hal itu dikarenakan sangat gugon tuhonnya mereka memelihara peninggalan karuhun termasuk didalamnya bahasa. Hal itu ditopang pula oleh sangat jarangnya persentuhan mereka dengan budaya luar. Terutama di Tangtu Telu, Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Karenanya, merekapun sangat tidak mengenal undak usuk basa. Bagi orang Tangtu undak usuk basa sangat asing. Contoh, untuk orang pertama dengan siapapun mereka berbicara mempergunakan sebutan aing, untuk orang kedua dipergunakan sebuatan sia. Orang Baduy Kanekes, sangat demokratis dalam berbahasa.

Berikut beberapa contoh sastera lisan yang dikenal di kalangan Masyarakat Baduy:

Mantera

Bentuk-bentuk mantera sastera lisan yang terdapat di Baduy Kanekes, diantaranya Mantera, Pantun, Pikukuh, Pitutur, Susuwalan, Riwayat, Cerita Rakyat dan Legenda. Adapun bentuk yang tertua dilihat dari segi bahasa, kandungan isi dan falsafah, serta nafas, ialah Mantera. Aki Puun Djainte dari Baduy Jero Cikeusik, menuturkan bahwa mantera, jauh lebih tua dari pantun serta Sastera Bambu. Mantera terdiri dari beberapa tingkat. Tua, pertengahan dan muda. Mantera ini juga ditentukan peruntukannya, seperti halnya untuk apa mantera diucapkan, tahun berapa keberadaan dari mantera tersebut, serta bahasa yang dipergunakannya. Namun betapapun mudanya usia sesuatu Mantera, fungsinya dalam kehidupan ritual masyarakat Baduy, menempati urutan yang teratas. Hal ini sejajar dengan kedudukan serta wibawa pikukuh. "Bisina kagetrak kagetruj, mangkana kudu nyanybla ku omong" (untuk menjaga ada yang tergores, kita harus pamit terlebih dahulu). Ujar Jaro Inas tahun 1980, Dukun Pantun dari Baduy Jero Cikeusik, tentang mantera.

Berikut salah satu contoh mantera maysrakat Baduy :

Sapun awaking reuk make pasang panjang pasadun pok sablapun

Meunag Ahung tujuh kali

Ahung deui

Ahung deui

Ahung malungga

Ahung malingga

Ahung mangdegdeg

Ahung mangandeg

Ahung manglindu asih

Ka Ambu aing Sira mangambung

Ka Bapa aing Sira mangumbang

Pangjungjungkeun panglawungkeun

Ku Ambu aing sira manglaung

Ku Bapa aing sira mangumpang

Pangnyambungkeun aing saur pangngapakeun aing saba

Ka luhur ka mega beureum

Ka mega hideung

Ka mega si karambangan

Ka mega si kareumbingan

Ka mega si karenten

Ka mega si kalambatan

Ka mega si kaleumbitan

Ka mega ssi antrawela

Ka kocapna

Ka ucapna

Ka Puncakning ibun

Ka guru putra hiyang bayu

Ka nu weang nyukcruk ibun

Ahung.......

(dari pantun: Langgasari Ngora)

Tingkatan mantera yang dikutip dari mantera yang dipakai dalam Pasundan Pantun Baduy tersebut, termasuk Mantera tingkat pertengahan. Berikut adalah kutipan dari Mantera yang lebih muda, diambil beberapa bait dari Mantera pada upacara Ngareremokeun (mengawinkan) Nyai Pohaci dengan Bumi. Suatu upacara yang dinamakan pula Ngaseuk. Dalam tradisi Adat sunda Wiwitan, masa Ngaseuk adalah masa Ngareremokeun padi yang diberi nama sangat indah, agung dan puitis; Nu Geulis Nyai Pohaci Sri Dangdayang Tresnawati, dengan Tanah atau Bumi yang bergelar sangat perkasa:

Weweg sampeg, Mandala pageuh

Mangka tetep mangka langgeng

Mangka langgeng tunggal tineung

Datang hiji datang dua

Datang tilu nungku nungku

Datang opat ngawun ngawun

Datang lima lingga emas

Datang genep nguren nguren

Datang tujuh lilimbungan

Puluhan tanpa wilangan

Terjemahan bebasnya oleh DH. NEH:

Semoga menetap semoga bahagia

Semoga sentausa menyatu kasih

Datang satu datang dua

Datang tiga berangkulan

Datang empat berpasanagan

Datang lima lingga cerlang

Datang enam berpasangan

Datang tujuh menyatu kasih

Berpuluh tidak terhitung

Sedang dalam Mantera mengundang kehadiran Nyai Pohaci Dangdayang Tresnawati pada acara Tari Baksa untuk memeriahkan Ngeslamkeun anak anak Baduy Kanekes, antara lain berbunyi:

Calik calik nu geulis

Nyai Sri calik di dieu

Unggah ka pasaran lega

Geusan sia gagayahan

Geusan sia gagayahan

Di gedong manik mandala pageuh

Lemut teuing ku buruanana

Lesang teuing ku bojana

Nu geulis ranggeuy mirikiniknik

Bar ngampar ku samak metruk

Gasan bujang kasangna bagus

Gasan Nyai tes netepan

Ngajepret palisir bodas

Terjemahan bebasnya oleh DH. NEH:

Silakan singgah nan cantik jelita

Nyai Sri dudukdisini

Naik ke halaman luas

Kalulah jelita pembawa kesuburan

Kaulah jelita pembawa kemakmuran

Duduklah di singgasana manik mandala perkasa

Indahnya halaman yang terhampar

Molek istana yang tersedia

Betapa pemurahnya wahai dikau jelita

Nan cantik molek pembawa kemakmuran

Duduklah beralas tikar kedamaian

Di tempat istirahat indah alamnya

Tempat Nyai menyantaikan diri

Berbaring tenang dengan tentram.

Adapun Mantera dalam jenis tinggi berusia tua, hanya di sablakan pada upacara sakral seperti pada jarah ke Sasaka Domas atau Sasaka Mandala, satu tahun sekali. Pengsablaannya (pembacaan mantera) Hanya dilakukan oleh Girang Puun dari Tangtu Padaageung (Baduy Jero Cikeusik). Sedangkan pengsablaan mantera tua pada upacara sakral Ngalaksa dan Ngawalu tersebut, hanya dapat dilaksanakan Baris Kolot (tertua) tertentu dari Baduy Jero (Tangtu) atau Baduy Luar (Panamping). Karenanya, wajarlah jika Sastera Lisan Baduy berbentuk Mantera tersebut, hanya dikuasai oleh beberapa Baris Kolot saja. Sehingga dikawatirkan keadaan atau kelestariannya akan cenderung menghadapi kepunahan. Paling tidak ada generasi penerusnya. Bahasa yang dipergunakan Mantera yang biasa dipakai para Girang Puun, waktu Jarah atau Muja ke Sasaka Pusaka Mandala atau Sasaka Domas, ialah bahasa Sunda Kuno.

Pikukuh, adalh Hukum Adat Baduy Kanekes, yang menyumber pada keyakinan Sunda Wiwitan. Diturunkan dengan lisan turun temurun sejak kurun tahun tidak terhitung. Terjalin dalam untaian kata dan kalimat, berbentuk puisi serta prosa lirik. Seperti: Lonjor teu beunang dipotong, pondok teu beunang disambung (panjang tak dapat dipotong, pendek tak dapat disambung).

Pun Sapun ka Luluhuran sakabeh Aing Menta panjang nya pangampurna!

Penulis adalah: Girang Puhu Bale Budaya Baduy Yayasan "Paku Tangtu Telu"

SASTERA LISAN BADUY

4 komentar:

  1. Kesederhanaan hidup mereka telah menyuburkan inspirasi para peziarah budaya sejak jaman Blume, penjelajah Jerman abad 18. Johan Iskandar, ahli ekologi, meneliti pola tani huma ini dan menemukan betapa 'cara bertani' masyarakat Kanekes, justru bisa mempertahankan keseimbangan ekosisttem, Tantangan yang dihadapai oleh masyarakat Kanekes adalah semakin bertambahnya penduduk, anggota masyarakat Kanekes, serta lahan Ulayat mereka yang tentu saja terbatas hanya 5.000 hektar. Padahal sistem perladangan huma membutuhkan lahan yang jauh lebih luas dibangdingkan dengan sistem 'sawah.' Dengan kesederhanan teknologi mereka, Urang Kanekes harus menemukan jalan ke luar tantangan masa depan mereka. Bukan hanya itu, interaksi dengan masyarakat luar yang semain intens dan dengan kualitas rembesan budaya yang luar biasa, menyisakan berbagai pertanyaan, apakah mereka akan tetap teguh menyandang jati diri Urang Kanekes, yang dalam bahasa Cecep Permana, sebagai 'Inti Jagat?' Seorang jurnalis asing, menuliskan sebuah kisah kecil tentang perjalanannya yang gagal menuju 'Tangtu Telu' atau Baduy Dalam, simak kisahnya di Guardian of the Sacred Forest

    BalasHapus
  2. Saya sedang mencari-cari sejarah tentang Banten dan menemukan blog ini. Semua artikel di sini sangat membantu saya. Jadi saya izin copas, Pak. Hanya untuk saya simpan di folder biar nanti bisa saya baca-baca. Terima kasih sebelumnya. Hhee...

    Salam!

    BalasHapus
  3. Izin untuk mengkopi makalahnya, hanya kalau bisa saya butuh buku-bukunya bisa dibeli di mana? walaupun photo kopi saya beli. kebetulan untuk Disertasi saya tentang Baduy... ini kontak saya : 085885753838 ditunggu kabarnya. Saya cari-cari emailnya ga ada.... terima kasih

    BalasHapus
  4. Pak bikin tulisan tentang penyerangan rakyat banten ke markas kampetai di serang

    BalasHapus