Senin, 30 Juni 2008

Wisata Budaya Banten

DN. Halwany


Perpushalwany
merupakan situs yang menyajikan informasi seputar tempat-tempat wisata, seputar budaya, dan informasi lainnya yang ada di Banten. Dalam situs ini anda dapat mendapatkan segala hal atau informasi yang ada kaitannya tentang wilayah Banten, tujuan utama dari situs ini adalah untuk mempublikasikan tempat-tempat wisata dan seni budaya yang di Banten. Dengan keterbatasan data dan sumber informasi penyusun mencoba memberikan informasi yang terbaik dan terakurat mudah-mudahan memberikan inspirasi bagi para pembaca dan menjadikan situs ini sebagai situs percontohan untuk menciptakan situs-situs yang lain yang lebih baik dan dapat memperkaya nuangsa seni dan budaya Banten bagi pencinta serta pemerhati budaya yang terdapat di Propvinsi terbaru ini. Terima kasih.

Di Banten terdapat peninggalan warisan leluhur yang sangat dihormati, antara lain Mesjid Agung Banten Lama, Makam keramat Panjang, Masjid Raya AL-Azhom dan beberapa peninggalan historis lainnya yang bernuansa religi. Latar belakang historis ini membuat mayoritas penduduk Banten memiliki semangat religius keislaman yang sangat kuat dengan tingkat toleransi yang tinggi. Sebagian besar masyarakat memang memeluk Islam, tetapi pemeluk agama lain dapat hidup berdampingan dengan damai. Dalam ukuran tertentu, Banten bisa menjadi salah satu contoh pluralisme agama di Indonesia. Kondisi sosial budaya masyarakat Banten diwarnai oleh potensi dan kekhasan budaya masyarakatnya yang sangat variatif, mulai dari seni bela diri pencak silat, debus, rudat, umbruk, tari saman, tari topeng, tari cokek, dog-dog, palingtung, dan lojor. Hampir semua seni tradisionalnya sangat kental diwarnai dengan etika Islam. Ada juga seni tradisional yang datang dari luar kota Banten, tapi semua itu telah mengalami proses akulturasi budaya sehingga terkesan sebagai seni tradisional Banten, misalnya seni kuda lumping, tayuban, gambang kromong dan tari cokek. Bahasa yang digunakan masyarakat Banten khususnya yang berada di wilayah utara menggunakan bahasa Jawa Serang, sedangkan di wilayah selatan menggunakan Bahasa Sunda.

Namun demikian, Provinsi Banten juga terkenal dengan masyarakat tradisonalnya yang masih memegang teguh adat tradisi, baik cara berpakaian maupun pola hidup lainnya. Mereka dikenal dengan suku Baduy yang tinggal di desa Kanekes, Kabupaten Lebak, sekitar 65 km sebelah selatan ibukota Provinsi Banten. Pemerintah menetapkan kawasan cagar budaya Pegunungan Kendang seluas 5.101,85 ha di Kenekes sebagai tempat tinggal mereka. Daerah ini dikenal sebagai wilayah titipan nenek moyang mereka yang harus dipelihara dan dijaga dengan baik, tidak boleh dirusak, dan tidak boleh diakui sebagai hal milik pribadi. Meski kesenian di Banten banyak ragamnya, debus merupakan kesenian yang paling populer. Kesenian ini diciptakan pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570).

Wisata Budaya - Orang Kanekes

Banten tak pernah kehabisan cerita. Provinsi yang baru di bagian barat tanah Jawa ini punya segudang potensi seni dan budaya pariwisata. Dari petualangan alam yang menantang, panorama yang mengundang decak kagum sampai keunikan budaya masyarakatnya. Tentu saja, semua itu bila digarap serius bisa jadi nilai tambah bagi perekonomian penduduk. Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yang turun temurun yaitu Suku Baduy. Mereka ada di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy pada umumnya terletak pada daerah aliran sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng, Banten Selatan. Letaknya sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta; sekitar 65 km sebelah selatan ibu kota Provinsi Banten. Jika mengunjungi masyarakat Baduy, pasti berdecak kagum melihat dengan kehidupan tradisional ini, bagi yang terbiasa hidup di kota metropolis, kehidupan yang sederhana itu terasa begitu primitif. Bayanginkan, di sana tidak ada listrik dan pompa air. Kalo malam jadinya gelap gulita, yang ada hanyalah lampu templok. Berbicara dalam gelap buat mereka sudah biasa.

Perkampungan Baduy sebetulnya sudah terkenal dari sejak dulu. Tak jelas kapan pastinya, kehidupan masyarakat bersahaja ini mulai dijual sebagai wisata budaya dan petualangan. Baduy kebanyakan dijelajahi oleh para penggemar petualangan. Cerita soal Baduy memang menarik diikuti. Konon, para ilmuwan, masyarakat Indonesia dan internasional yang menamakan kelompok penghuni di kawasan pegunungan Kendeng, Banten Selatan itu sebagai orang Baduy. Kata Baduy itu sendiri datang dari sebuah bukit yang namanya gunung Baduy dan mata air CiBaduy di selatan Kampung Kerdu Ketug, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Orang Baduy sendiri menamakan kelompok mereka dengan sebutan Orang Kanekes. Nama Kanekes berasal dari sungai Cikanekes yang mengalir di daerah itu. Ada dua kelompok penduduk di kawasan seluas sekitar 5.102 ha di Kabupaten Lebak itu. Yang terbesar, sekitar 7.000 jiwa. Kelompok ini disebut Urang Panamping (Orang Panamping, sebutan untuk Baduy Luar). Mereka tinggal di bagian utara wilayah tadi. Masyarakat ini menempati 28 kampung yang punya delapan anak kampung (babakan). Di bagian selatan, terdapat hunian orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Urang Tangtu (Badui Dalam). Pada tahun 2000, kelompok yang mendiami tiga buah kampung itu (Cikeusik, Cikartawana dan Cibeo) populasinya mendekati 800 jiwa. Orang Tangtu menyebut saudara-saudara mereka di bagian utara (yang ciri khas pakean hitam dan celana hitam, ikat kepala batik berwarna biru dan bercorak biru tua bergambar adu ayam) dengan Urang Kaluaran (orang yang dikeluarkan). Orang Kaluaran memanggil saudara mereka di bagian selatan sebagai Urang Girang.

Orang Baduy atau Urang Rawayan adalah sekelompok komunitas Sunda yang kebudayaannya dianggap kebudayaan minoritas (culture minority), sebab mereka dianggap oleh orang yang tidak tahu sebagai etnis minoritas. Baduy bukan etnis minoritas. Masyarakat Badu adalah bagian dari etnis Sunda. Perubahan administratif suatu geografis tidak serta-merta menyebabkan etnis yang terpisahkan itu menjadi etnis Cina, Batak, Padang, dan lain-lain, sejauh kedua etnis terpisahkan oleh dinding administratif itu tetap terikat oleh filsafat, kesenian, bahasa, dan kepercayaan yang sama. Dan sampai hari ini, orang Baduy masih bertutur kata Sunda, berfilsafat Sunda, berkesenian Sunda, dan berkepercayaan Sunda. Orang Baduy adalah salah satu komunitas Sunda yang cerdas memelihara dirinya dari jerat-jerat kebudayaan eksogen yang dihasilkan lewat out breeding kebudayaan luar yang dibawa oleh individu-individu yang miskin kultural. Orang Baduy masih mampu memelihara identitas diri (self identity) etnisnya. Identitas diri atau jati diri adalah cara seseorang memandang, membayangkan, dan mencirikan dirinya. Identitas diri pada umumnya ditampakkan lewat cara seseorang berpakaian. Pakaian orang Baduy, sangat khas berciri etnik. Mereka tidak malu berpakaian tidak sebagaimana umumnya masyarakat sekelilingnya. Dan tak seorang pun di antara kita yang memandang rendah.

Kecuali orang Baduy, kita termasuk orang-orang yang kehilangan identitas dirinya. Bangsa-bangsa yang cerdas memelihara identitas dirinya di antaranya adalah bangsa India, bangsa Afrika, bangsa Cina, bangsa Melayu, dan bangsa Jepang. Bangsa-bangsa tersebut sekurang-kurangnya tetap memelihara identitas dirinya lewat caranya berpakaian. Dan bangsa Sunda, daripada berpakaian etnisnya, mereka lebih memilih pakaian model bangsa Arab, seperti gamis dan surban. Bisa jadi orang-orang Sunda tersebut membayangkan, memandang, dan mencirikan dirinya sebagai orang Arab dan hal itu absah sangat. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka mampu secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang (ngahuma), menjual hasil kerajinan tangan khas Baduy, seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup); tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, pernak-pernik, sarung serta golok/parang. Masyarakat Baduy bagaikan sebuah negara yang tatanan hidupnya diatur oleh hukum adat yang sangat kuat. Semua kewenangan yang berlandaskan kebijaksanaan dan keadilan berada di tangan pimpinan tertinggi, yaitu Puun atau Jaro. Puun atau Jaro bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan hidup masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya itu dibantu juga oleh beberapa tokoh adat lainnya. Sebagai tanda setia kepada Pemerintahan RI, setiap akhir tahun mereka menggelar upacara Seba kepada Bapak Gede (Panggilan Kepada Bupati Lebak) dan Camat Leuwidamar. Pemukiman masyarakat Baduy berada di daerah perbukitan. Tempat yang paling rendah berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Sehingga dapat dibayangkan bahwa rimba raya di sekitar pegunungan Kendeng merupakan kawasan yang kaya akan sumber mata air yang masih bebas polusi. Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di lereng gunung, celah bukit serta lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air.

Wisata Sejarah – Kawasan Banten lama

Mengunjungi kawasan wisata Banten lama memang boleh dibilang dengan kunjungan wisata sejarah karena menyajikan peninggalan-peningalan sejarah dan memberikan gambaran-gambaran masa keemasan yaitu zaman kesultanan. Awal mula Banten tak bisa lepas dari keberadaan sebuah tempat yang dikenal dengan kawasan Banten Lama. Berada di wilayah Kasemen, di sana terdapat sejumlah bangunan yang mampu berbicara banyak mengenai perkembangan Banten sejak kemunculannya. Dalam konteks sekarang, bangunan ini juga menjadi simbol kejayaan Banten masa lalu. Komplek Istana Surosowan, dulunya adalah keraton kesultanan pertama yang ada di Banten. Dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanudin, keraton ini berdiri di areal seluas 3 hektar dan dikelilingi oleh tembok tinggi setebal 5 meter. Namun, ketika Belanda menguasai Banten, istana dihancurkan. Dan kini hanya temboknya yang tersisa. Tak jauh dari Istana Surosowan, dapat dijumpai bangunan lain yang dikenal dengan Mesjid Agung Banten. Mesjid yang masih berdiri kokoh ini masih digunakan sesuai dengan fungsinya sampai sekarang. Mulai didirikan pada masa sultan Banten pertama, mesjid ini merupakan mesjid kedua yang dibangun sultan dan menjadi ikon Banten Lama. Bangunan yang bergaya Eropa-Cina ini memiliki 4 bangunan di dalamnya, yakni bangunan utama (sebagai tempat ibadah) berbentuk segi 4 dengan atap bersusun 5, Tiyamah, menara dan makam di sisi utaranya. Bangunan Tiyamah sendiri berfungsi sebagai pelengkap dan dulu digunakan sebagai tempat bermusyawarah atau diskusi keagamaan. Di sebelah utara mesjid, terdapat beberapa makam tua dari keluarga kerajaan dan pengikut setianya. Makam ini masih ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai pelosok.

Bangunan yang paling khas di kompleks ini adalah menara mesjid dengan tinggi sekitar 25 meter dengan arsitektur Cina yang sangat unik dan menarik perhatian. Anda bisa naik ke puncak menara melalui tangga sempit, selebar bahu, yang melingkari tubuh menara dan menikmati pemandangan sekitar Banten yang cantik serta perairan Selat Sunda yang eksotis dari puncaknya. Satu lagi bangunan penting di kawasan ini, yaitu Istana Kaibon yang berada di Kampung Kroya atau di sekitar pertigaan dan jembatan menuju mesjid agung. Berasal dari kata 'keibuan', dulunya, istana ini dipakai oleh Ratu Aisyiah, ibu Sultan Syafiuddin yang mengungsi karena dihancurkannya Surosowan oleh pasukan Belanda. Tetapi, Istana Kaibon pun bernasib seperti saudara tuanya (Surosowan-red). Belakangan, Kaibon pun dihancurkan oleh Belanda. Sekarang, kondisi Kaibon sedikit lebih baik dari Surosowan. Pengunjung masih bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas bentuk istana ini secara menyeluruh. Tak jauh dari Surosowan, ada bangunan Benteng Speelwijk (Belanda) dan sebuah kelenteng Cina atau vihara yang sekarang bernama Avalokitesvara, yang juga menjadi saksi perjalanan sejarah Banten. Meski tinggal menyisakan tembok di bagian utaranya saja, dengan beberapa makam Belanda di sekitar kompleks atau yang dikenal dengan Kierkof, Speelwijk memiliki pesona lain untuk dinikmati. Sementara, kelenteng yang berdiri hanya beberapa puluh meter dari benteng, merupakan kelenteng tertua di Banten. Kelenteng yang berada di bibir pantai ini juga dianggap keramat karena tidak rusak sedikit pun walau diterjang gelombang tsunami besar akibat letusan Gunung Krakatau, 123 tahun lalu.

Wisata Seni Budaya - Debus

Setelah mengucapkan mantra “haram kau sentuh kulitku, haram kau minum darahku, haram kau makan dagingku, urat karang, tulang wesi, kulit baja, aku keluar dari rahim ibunda. Aku mengucapkan kalimat la ilaha illahu. Maka pada saat itu juga ia menusukkan golok tersebut ke paha, lengan, perut dan bagian tubuh lainnya. Pada saat atraksi tersebut iapun menyambar leher anak kecil sambil menghunuskan goloknya ke anak tersebut. Anehnya bekas sambaran golok tersebut tidak ada meninggalkan luka yang sangat berbahaya bagi anak tersebut. Atraksi yang sangat berbahaya tersebut biasa kita kenal dengan sebutan Debus, Konon kesenian bela diri debus berasal dari daerah al Madad. Semakin lama seni bela diri ini makin berkembang dan tumbuh besar disemua kalangan masyarakat banten sebagai seni hiburan untuk masyarakat. Inti pertunjukan masih sangat kental gerakan silat atau beladiri dan penggunaan senjata. Kesenian debus banten ini banyak menggunakan dan memfokuskan di kekebalan seseorang pemain terhadap serangan benda tajam, dan semacam senjata tajam ini disebut dengan debus.

Kesenian ini tumbuh dan berkembang sejak ratusan tahun yang lalu, bersamaan dengan berkembangnya agama islam di Banten. Pada awalnya kesenian ini mempunyai fungsi sebagai penyebaran agama, namun pada masa penjajahan belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa. Seni beladiri ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten melawan penjajahan yang dilakukan belanda. Karena pada saat itu kekuatan sangat tidak berimbang, belanda yang mempunyai senjata yang sangat lengkap dan canggih. Terus mendesak pejuang dan rakyat banten, satu satunya senjata yang mereka punya tidak lain adalah warisan leluhur yaitu seni beladiri debus, dan mereka melakukan perlawanan secara gerilya. Debus dalam bahasa Arab yang berarti senjata tajam yang terbuat dari besi, mempunyai ujung yang runcing dan berbentuk sedikit bundar. Dengan alat inilah para pemain debus dilukai, dan biasanya tidak dapat ditembus walaupun debus itu dipukul berkali kali oleh orang lain. Atraksi kekebalan badan ini merupakan variasi lain yang ada dipertunjukan debus. Antara lain, menusuk perut dengan benda tajam atau tombak, mengiris tubuh dengan golok sampai terluka maupun tanpa luka, makan bara api, memasukkan jarum yang panjang ke lidah, kulit, pipi sampai tembus dan tidak terluka. Mengiris anggota tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah tetapi dapat disembuhkan pada seketika itu juga, menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang melekat dibadan hancur, mengunyah beling/serpihan kaca, membakar tubuh. Dan masih banyak lagi atraksi yang mereka lakukan.

Dalam melakukan atraksi ini setiap pemain mempunyai syarat syarat yang berat, sebelum pentas mereka melakukan ritual ritual yang diberikan oleh guru mereka. Biasanya dilakukan 1-2 minggu sebelum ritual dilakukan. Selain itu mereka juga dituntut mempunyai iman yang kuat dan harus yakin dengan ajaran islam. Pantangan bagi pemain debus adalah tidak boleh minum minuman keras, main judi, bermain wanita, atau mencuri. Dan pemain juga harus yakin dan tidak ragu ragu dalam melaksanakan tindakan tersebut, pelanggaran yang dilakukan oleh seorang pemain bisa sangat membahayakan jiwa pemain tersebut. Menurut beberapa sumber sejarah, debus mempunyai hubungan dengan tarekat didalam ajaran islam. Yang intinya sangat kental dengan filosofi keagamaan, mereka dalam kondisi yang sangat gembira karena bertatap muka dengan tuhannya. Mereka menghantamkan benda tajam ketubuh mereka, tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Kalau Allah tidak mengijinkan golok, parang maupun peluru melukai mereka. Dan mereka tidak akan terluka. Pada saat ini banyak pendekar debus bermukim di Desa Walantaka, Kecamatan Walantaka, Kabupaten Serang. Yang sangat disayangkan keberadaan debus makin lama kian berkurang, dikarenakan para pemuda lebih suka mencari mata pencaharian yang lain. Dan karena memang atraksi ini juga cukup berbahaya untuk dilakukan, karena tidak jarang banyak pemain debus yang celaka karena kurang latihan maupun ada yang “jahil” dengan pertunjukan yang mereka lakukan. Sehingga semakin lama warisan budaya ini semakin punah. Dahulu kita bisa menyaksikan atraksi debus ini dibanyak wilayah banten, tapi sekarang atraksi debus hanya ada pada saat event event tertentu. Jadi tidak setiap hari kita dapat melihat atraksi ini. Warisan budaya, yang makin lama makin tergerus oleh perubahan zaman.

Wisata Ziarah – Makaom Sultan Banten

Hari Jum’at Pagi, meskipun cuaca mendung nampak serombongan ibu-ibu berbusana seragam muslim warna hijau muda berjalan bergegas menuju kompleks Mesjid Agung Banten. Hujan rintik yang mulai perlahan turun nampaknya tidak mampu mengurungkan niat mereka untuk berziarah kemakam-makam sultan Banten. Sepertinya hal ini merupakan rutinitas yang telah biasa mereka lakukan. Menjelang siang nampak berbagai bus-bus pariwisata yang didominasi kaum hawa berdatangan dari berbagai wilayah di pulau Jawa. Tampak sekali rasa antusias mewarnai rona muka mereka tatkala mereka berkunjung atau berziarah ke Mesjid Agung Banten. Masjid Agung Banten yang didirikan oleh Sultan Maulana Hasanudin atau putera dari Sunan Gunung Jati, meskipun telah berumur lebih dari 4 abad (didirikan pada kisaran tahun 1560-1570), nampak masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik. Seperti juga mesjid-mesjid lainnya, bangunan induk mesjid berdenah segi empat. Atapnya merupakan atap bersusun lima dengan bagian kiri dan kanannya terdapat masing-masing serambi. Agaknya serambi ini dibangun pada waktu kemudian. Didalam serambi kiri, yang merupakan bagian utara dari mesjid, terdapat makam-makam dari beberapa sultan Banten dan keluarganya, diantaranya makam Maulana Hasanuddin dan isterinya, Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Abu Nashr Abdul Qahhar. Sedangkan didalam serambi kanan, yang terletak di selatan, terdapat pula makam-makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul 'Abidin dan lain-lainnya. Pada bagian tangga pada masdjid itu memiliki model menyerupai goa, yang menurut sejarah pembangunannya dilakukan atas bantuan seorang arsitektur asal Mongolia bernama Cek Ban Cut.

Pada sisi timur dari mesjid tersebut terdapat menara yang berdiri dengan ketinggian ± 30 meter dengan diameter bagian pangkalnya ± 10 meter. Menara ini dulunya selain sebagai tempat untuk mengumandangkan azan juga digunakan untuk melihat/mengawasi perairan laut. Konon menara ini dibangun semasa kekuasaan Sultan Haji pada tahun 1620 oleh seorang arsitek Belanda, Hendrik Lucazoon Cardeel. Pada waktu itu, Cardeel memang membelot ke pihak Banten, dan kemudian dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna. Dibagian dalam menara tersebut terdapat sebuah tangga untuk menuju bagian atasnya. Tangga tersebut melingkari menara pada bagian tepi dalamnya dengan lorong sempit yang hanya cukup dilewati oleh satu orang saja. Bahkan bila anda memiliki ukuran tubuh yang gemuk/besar, bisa dipastikan tidak akan bisa melewatinya. Dari bagian atas menara ini, kita dapat melihat pemandangan disekitar mesjid termasuk lautan lepas dengan perahu-perahu nelayannya. Jarak antara menara ini dengan pantai tidaklah jauh yakni kurang lebih 1,5 km, sehingga cukup jelas untuk memantau kesibukan di perairan laut Banten. Dengan kata lain, Mesjid Agung Banten memang sarat dengan nuansa keagamaan Islam yang telah dipadu dengan budaya Barat dan Cina pada arsitektur bangunannya. Dengan adanya makam-makam kuno kesultanan Banten nampaknya semakin menjadikan mesjid ini ramai dikunjungi untuk wisata ziarah terutama dihari-hari libur maupun dihari-hari besar umat Islam lainnya.


Sumber Data :

1. Ambary, H.M., H. Michnob dan John N. Miksic, (1988),

Katalogus Koleksi Data Arkeologi Benten, Direktonat Perlindungan & Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Punbakala, Jakarta.

2. Halwany Michrob & Mujahid, Catatan Masalalu Banten, Percetakakan Saudara 1993

3. Halwany, Michrob, (1989), Catatan Sejarah & Arkeologi : Ekspor Impor di Zaman Kesultanan Banten, Kadinda Serang,

(1991), The Shift of The Karangantu-Market Site in Banten Lama

4. Tjandrasasmita, Uka, Hasan M. Ambary & Halwany Michrob,

5. Halwany Michrob, 1981, Pemugaran dan Penelitian Arkeologi Sebagai Sumer Data Bagi Perkembangan Sejarah Kerajaan Islam Banten 1982, Sejarah Masuknya Islam Ke Banten

6. Hamka, 1967, Sejarah Umat Islam Jilid III

7. Hasan M. Ambary, 1981, Mencari Jejak Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar